Belajar Al-Fatihah Bersama Pengajar yang Menempuh Jalur Keilmuan Bersanad
Mengenal Ustadz Sayuti Ambia MG
Ustadz Sayuti Ambia MG adalah pengajar utama FatihahQu. Beliau mengajar Al-Fatihah bukan karena sekadar hafal bacaan, tetapi karena menempuh perjalanan keilmuan yang panjang, belajar langsung kepada guru-guru Al-Qur’an berlisan Arab, dan menerima sanad melalui jalur yang dapat ditelusuri.
Di FatihahQu, peserta tidak hanya menerima materi pembelajaran. Peserta belajar bersama seorang pengajar yang pernah duduk di majelis guru-guru Al-Qur’an dari berbagai negara, menerjemahkan karya ulama, dan membina lembaga pengajaran Al-Qur’an.
Belajar dari guru Al-Qur’an berlisan Arab dan bersanad dari Yaman, Aljazair, dan Madinah Al-Munawwarah
Penerjemah Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al-Faqih dari Madinah Al-Munawwarah
Penerjemah dan pemegang sanad kitab Riyadhotul Huruf
Pemegang sanad Al-Fatihah melalui Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al-Faqih dan jalur Syaikh Ali Al-Hudzaifi, Imam Masjid Nabawi
Pengajar dan pembina lembaga Al-Qur’an, dai lintas provinsi
Perjalanan Keilmuan
Perjalanan keilmuan Ustadz Sayuti Ambia MG dimulai dari pendidikan formal di Aceh, dari SD, MTsN, MAN, hingga TBA UIN Ar-Raniry dan TBA STIT BU. Namun pembelajaran Al-Qur’an baginya tidak berhenti di bangku formal.
Beliau melanjutkan belajar di Ma’had Aly Ar-Rayah, Asas Institute Qur’an, dan Kampung Arab Academy. Di tengah perjalanan itu, beliau berguru langsung kepada para muqri berlisan Arab dari berbagai negara, mendalami bacaan dan ilmu tajwid melalui talaqqi, yaitu tradisi belajar langsung dengan mendengarkan, meniru, dan menerima koreksi dari guru.
Dari perjalanan itu, beliau kemudian dipercaya menjadi penerjemah karya ulama, mengajar, membina lembaga, berdakwah, hingga menjadi pengajar utama FatihahQu. Otoritas beliau bukan muncul dari satu jabatan, tetapi terbentuk dari perjalanan panjang yang saling menguatkan.
Jalur Sanad dan Guru
Pembelajaran Al-Qur’an dalam tradisi Islam tidak hanya berbicara tentang materi yang tertulis. Ada tradisi belajar langsung kepada guru, memperhatikan bacaan, menerima koreksi, dan meneruskan ilmu melalui jalur keilmuan yang dapat ditelusuri. Jalur inilah yang disebut sanad.
Kehadiran sanad membuat pembelajaran Al-Qur’an bukan sekadar mengikuti teori dari buku, tetapi menerima ilmu melalui rangkaian guru yang sambung-menyambung. Itulah sebabnya jalur guru menjadi bagian penting dari otoritas pengajaran Al-Qur’an.
Ustadz Sayuti Ambia MG berguru Al-Qur’an kepada sejumlah guru dari berbagai negara, di antaranya:
- Syaikh Fu’ad Al-Bakrain Al-Yamani — Yaman
- Syaikh Abu Imran Hisyam At-Tilimtsani Al-Jazairi — Aljazair
- Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al-Faqih — Madinah Al-Munawwarah
Melalui Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al-Faqih, beliau memegang sanad kitab Riyadhotul Huruf dan sanad Al-Fatihah. Beliau juga memiliki jalur sanad Al-Fatihah dari Syaikh Ali Al-Hudzaifi, Imam Masjid Nabawi.
Pengalaman Menerjemahkan Kitab
Salah satu peran yang membentuk kedalaman keilmuan beliau adalah pengalaman menerjemahkan karya ulama. Beliau menjadi penerjemah Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al-Faqih dari Madinah Al-Munawwarah, sekaligus penerjemah kitab Riyadhotul Huruf.
Pengalaman ini berarti beliau tidak hanya mempelajari materi yang sudah diterjemahkan orang lain, tetapi berinteraksi langsung dengan karya dan pengajaran dari jalur keilmuan tersebut. Proses penerjemahan menuntut pemahaman bahasa Arab, pemahaman ilmu Al-Qur’an, sekaligus kedekatan dengan guru yang mengajarkan.
Kemampuan menjembatani ilmu Al-Qur’an dari guru-guru berlatar bahasa Arab kepada masyarakat Indonesia menjadi salah satu hal yang membuat beliau relevan mengajar di FatihahQu.
Pengalaman Dakwah dan Pendidikan
Di luar kelas FatihahQu, beliau aktif mengajar, membina lembaga, dan berdakwah. Pengalaman-pengalaman ini bukan sekadar daftar organisasi, tetapi bukti bahwa ilmu yang beliau pelajari diteruskan kepada masyarakat melalui berbagai jalur.
Markaz Dakwah Al Ghuroba Takengon
Inisiator, konseptor, pimpinan umum, sekaligus pembina.
Lembaga Tahsin Al-Qur’an Ar-Ruh Aceh
Mudir lembaga tahsin Al-Qur’an.
Baiti Jannati Pesantren Lansia
Pembina BJPL Lhokseumawe.
Da’i Yayasan Qatar Syeikh Ali Ats-Tsani
Aktif mengisi kajian dan khutbah lintas provinsi di Indonesia.
Mendengar Tilawah Beliau
Bacaan dapat memberi gambaran tentang kedalaman penghayatan terhadap Al-Qur’an.
Di FatihahQu, peserta tidak hanya belajar membaca Al-Fatihah.
Peserta belajar bersama pengajar yang memiliki perjalanan keilmuan, pengalaman mengajar, dan jalur transmisi ilmu yang jelas. Dari majelis guru-guru berlisan Arab, pengalaman menerjemahkan karya ulama, hingga pengajaran Al-Fatihah yang hadir di FatihahQu.
Mengenal Program FatihahQu