Tajwid

Huruf Ain, Dhad, dan Dha, Kenapa Sulit bagi Kita dan Bagaimana Mengatasinya

Tim fatihahQU 4 mnt baca

Huruf Ain, Dhad, Dha, dan Dhal tidak ada dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya lidah kita sering keliru. Syaikh Ghazi menemukan metode sederhana dari 25 tahun pengalaman untuk mengatasi masalah ini.

Coba ucapkan huruf Ain. Apakah keluar dari tenggorokan bagian tengah, atau terdengar seperti "ain" biasa di mulut? Lalu coba Dhad, huruf yang menjadi sebutan bahasa Arab sebagai lughat ad-Dhad, bahasa yang punya huruf Dhad. Apakah sisi lidah Anda menyentuh geraham dengan benar?

Jika merasa sulit, Anda tidak sendirian. Ini adalah masalah klasik bagi kita, penutur bahasa non-Arab.

Kenapa Huruf Ini Sulit bagi Kita?

Syaikh Ghazi bin Sulaiman Al Faqih, penulis Kitab Riyadatul Huruf, menjelaskan sebabnya dengan tegas. Huruf-huruf seperti Dhad, Dha, Dzal, dan Ain tidak asli dalam banyak bahasa non-Arab. Huruf-huruf ini tidak ada dalam bahasa kita sejak awal.

Makanya ketika diajarkan, kita sulit. Makhraj huruf belum terbiasa. Lidah kita tidak terbiasa mengeluarkan huruf dari tempat keluarnya yang benar. Dan lebih dari itu, otak kita belum terkoneksi dengan lisan.

Mungkin di otak kita sudah mampu membayangkan huruf dan pengucapannya. Tapi lisan kita belum terbiasa. Inilah masalah utama.

Satu Huruf Salah, Makna Berubah Total

Syaikh Ghazi memberi contoh nyata. Seseorang ingin mengucapkan Ala, malah terbaca Ala. Padahal maknanya berbeda jauh. Yang ingin diucapkan huruf Ain, malah dibaca Ain biasa.

Begitu juga dengan Tsa, Tha, Dzal. Ketika seseorang ingin mengucapkan satu huruf, malah terjadi pengucapan ke huruf lain yang mirip. Yang diinginkan huruf A, tapi terbaca huruf B.

Dalam Al Quran, satu huruf berubah, makna bisa berubah total. Bahkan bisa menjurus ke makna yang berbahaya, seperti yang dijelaskan Syaikh Ghazi dalam ceramah lain.

Metode 25 Tahun dari Syaikh Ghazi

Selama 25 tahun mengajar di banyak negara Afrika dan Asia Timur, Syaikh Ghazi menemukan cara menyederhanakan ilmu makharijul huruf untuk masalah yang dihadapi masyarakat di daerah tersebut. Karena mereka tidak bisa mengucapkan beberapa huruf yang memang tidak ada dalam bahasa mereka.

Mula-mula, beliau menulis di papan tulis dua huruf yang disandingkan. Huruf yang sulit dipasangkan dengan huruf yang mirip, agar murid bisa membedakan. Dari pengalaman itu, beliau mendapati kemanfaatan luar biasa bagi yang sungguh-sungguh ingin belajar.

Setelah beberapa tahun, beliau menuangkan metode itu dalam kitab Riyadatul Huruf, yang artinya "Latihan Huruf". Kitab ini khusus membantu siswa mencapai tujuan, terutama non-Arab yang kesulitan mengeluarkan huruf dari makhraj yang benar.

Huruf-Huruf yang Paling Sering Bermasalah

Berdasarkan pengalaman Syaikh Ghazi, ada beberapa huruf yang paling sering bermasalah bagi penutur non-Arab:

  • Dhad (ض), yaitu butuh sisi lidah menyentuh geraham, bukan ujung lidah.
  • Dha (ظ), yaitu mirip dengan Dhad tapi dengan posisi gigi seri atas.
  • Dzal (ذ), yaitu sering tertukar dengan Za atau Dza.
  • Ain (ع), yaitu keluar dari tenggorokan bagian tengah, bukan mulut.
  • Tsa (ث), yaitu sering dibaca seperti Sa atau Ta.
  • Tha (ط), yaitu sering tertukar dengan Ta biasa.

Kuncinya, Latihan Huruf Demi Huruf

Syaikh Ghazi menegaskan, Al Quran itu kumpulan surat. Surat kumpulan ayat. Ayat kumpulan kata. Kata kumpulan huruf. Maka yang paling penting adalah memperbaiki huruf demi huruf, agar terperbaiki kata, agar terperbaiki ayat, agar terperbaiki surat.

"Seseorang yang ingin membangun bangunan, tidak mungkin langsung ke dinding atau ke atap. Dia harus membangun dari pondasinya, batu demi batu.", ujar Syaikh Ghazi.

Begitu pula bacaan Al Quran. Kita tidak bisa langsung ingin lancar baca surat tanpa memperbaiki hurufnya terlebih dahulu. Pondasinya adalah huruf.

Tidak Perlu ke Arab, Tapi Perlu Guru yang Benar

Syaikh Ghazi memberi analogi yang menarik. Jika ia, orang Arab, ingin belajar bahasa Indonesia, apakah cocok pergi ke Cina? Tentu tidak. Tapi jika ada orang Cina yang lahir di Indonesia, besar di Indonesia, fasih berbahasa Indonesia, apakah boleh Syaikh belajar darinya? Boleh, karena orang itu sudah fasih.

Begitu pula sebaliknya. Kita, orang Indonesia, tidak perlu pergi ke Arab untuk belajar Al Quran. Tapi kita perlu belajar dari guru yang sudah belajar langsung dari guru Arab yang bersanad, sehingga bacaannya benar dan tersambung sanadnya hingga Rasulullah.

Mari Mulai dari Huruf Demi Huruf

Jika Anda merasa bacaan huruf Anda masih belum yakin, jangan tunda. Setiap hari kita membaca Al Fatihah minimal 17 kali dalam salat. Setiap kesalahan huruf yang kita perbaiki, adalah investasi untuk seluruh salat kita seumur hidup.

Di FatihahQu, kami belajar huruf demi huruf dengan metode Riyadatul Huruf dari Syaikh Ghazi, diterjemahkan dan diajarkan oleh Ustaz Sayuti Ambia. Online via Zoom, dari nol, cocok untuk pemula. Karena memperbaiki satu huruf, lebih baik dari sekadar menghafal banyak surat dengan bacaan yang keliru.

Sudah Siap Memperbaiki Bacaan Al Quran Anda?

Belajar langsung dari guru bersanad, online via Zoom. Cocok untuk pemula maupun yang ingin memperbaiki bacaan Al Fatihah.

Lihat Kelas Tahsin Al Fatihah

Tim fatihahQU

Penulis di FatihahQu